Antara sejarah dan kejayaan…
Sejarah, ada yang bilang tergantung siapa yang berkuasa karena sejarah ditulis oleh yang berkuasa. Gajah Mada, patih yang telah kita kenal sebagai penyatu nusantara tentu bukan pahlawan bagi kerajaan-kerajaan kecil yang ia kuasai untuk menyatu dengan majapahit. Sudut pandang yang berbeda membuat kita bisa melihat sejarah yang berbeda pula. Tapi toh, cerita kejayaan majapahit membuat kita bangga terhadap nusantara. Ane beberapa kali membaca artikel maupun buku daru Rizky Ridyasmara. Dari beliau ane banyak pandangan lain. Melihat sejarah bangsa ini dari sisi yang berbeda. Yang dipuja ternyata sebenarnya tidak seberapa. Yang terlupa sebenarnya ialah dalangnya. Belum lagi tentang VOC yang jadi topeng zionisme di negeri ini. Belum lagi tidak adanya torehan tinta sejarah terhadap perjuangan muslim dan golongan santri yang berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia dengan mendasarinya dengan Jihad fii sabilillah.
Tidak hanya pada sejarah Indonesia, sejarah kaum muslimin sendiri ane pernah baca tentang gowzul fikri dalam intern kaum muslimx. Tentang dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah. Dimana memang kebanyakan berpandangan Abbasiyahlah dimana keturunan Ibnu Abbaslah dinasti yang benar sedangkan Umayah keturunan dari yang meruntuhkan kekhalifahan Ali secara tidak fair. Sehingga oleh karena itu, banyak yang berpandangan tidak menyenangkan pada dinasti Umayah. Padahal sejatinya tidak demikian, tapi sayangnya ane kurang begitu faham jadi penjelasannya ane muat di tulisan selanjutnya aje insyaAllah.
Belum lagi kita bicara tentang kejayaan Islam yang merupakan bagian yang cukup penting dalam sejarah dunia tapi tidak ada dalam kurikulum sejarah-sejarah di pendidikan formal meski notabenenya negeri ini adalah negeri dengan jumlah umat islam terbesar. Miris. Anak sekolahan akan dengan serta merta tau ketika ditanya Chritoper Colombus, Alexander Graham Bell, Adam Smith, dan kawan-kawannya yang tentunya dengan nama-nama sejenis. Tapi akan garuk-garuk kepala ketika ditanya Al Khawarizm, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina,dkk. Alangkah sayangnya dan alangkah tidak adilnya ….
Meski kadang ada rasa kenapa ya kok rasanya mengingat kejayaan masa lalu trus,,, kapankah kita akan meniru bliau bliau yang sudah banyak karya? Yang kita ributkan lebih banyak kenapa sejarah ini tidak banyak diungkap ke permukaan sejarah. Apakah hanya itu? Dan apakah aq hanya bisa berbicara seperti ini saja?
Setidaknya, ane sudah mau menengok pada sejarah yang sebenarnya. Meski hanya ini yang sekarang bisa ane lakuin, ane yakin dengan melihat kejayaan masa lalu makaakan ada masanya kejayaan itu terulang kembali. Dan setidaknya membangunkan orang dari tidur yang panjang,, woi…. Ini belum ada dari 100 tahun keruntuhan kekhalifahan utsmani. Ya benar, belum ada 100 tahun dari keruntuhan yang didalangi oleh M. Kemal A. dan tentu tidak lepas dari lemahnya umat pada saat itu tapi rasanya kita telah tertinggal sangat jauh dan amat jauh hingga rasanya ada kemungkinan tidak mungkin untuk mengejar ketertinggalan. Mana lagi kini nasionalisme lebih diunggulkan dibandingkan ukhuwah islamiyah.
Wallahua’lam kapankah masa kejayaan itu akan adalagi. Yang jelas jangan pernah tertinggal untuk berperan meski sekecil pasir yang bisa diberikan. Namun, jangan pernah tertinggal. Jangan pernah.
